Daftar Tulisan
Daftar Tulisan

Rabu, 16 Juli 2014


7 Masjid Penyedia Buka Puasa Bersama (Ifthor) di Kecamatan Suradadi

Alhamdulillah.... telah tiba bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan dan ampunan. Bulan Ramadhan merupakan bulan dimana umat muslim diwajibkan untuk berpuasa.

Sebagaimana telah masyhur firman Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Dan sudah menjadi keharusan, setiap puasa maka wajib berbuka. Berbuka puasa merupakan masa yang membahagiakan. Bahkan menjadi salah satu kebahagiaan...... sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai berikut :

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Hadits ini adalah satu dari sekian banyak hadis yang menerangkan tentang keutamaan ibadah puasa. Allah secara langsung menyatakan bahwa puasa dapat menerbitkan kebahagiaan pada hati orang-orang yang melaksanakannya. Beban saat berpuasa menahan segala keinginan syahwat kelak berakhir dengan berjuta kebaikan yang menyenangkan, baik di dunia, maupun di akhirat. (Sumber : Dua Kebahagiaan Bagi Orang Yang Berpuasa)

Bagi Anda yang bermukim tentu tidak begitu merasa kesulitan ketika waktu berbuka tiba. Akan tetapi bagi musafir yang dalam perjalanan atau orang perantauan yang kehabisan bekal tentu akan kesusahan. Mereka membutuhkan makanan berbuka ketika tiba waktunya. Naah... di Suradadi.... sudah ada loh beberapa masjid dan musholla yang menyediakan menu berbuka puasa gratis.... Apa saja kah itu....

Peta masjid dan musholla penyedia buka puasa bersama di Kecamatan Suradadi

  1. Masjid Al Kautsar Suradadi
    Sudah menjadi kebiasaan bagi pengurus masjid besar Al Kautsar Suradadi untuk menyediakan makanan berbuka puasa bersama bagi jamaah yang hadir sob... Letak masjid ini sangat strategis. Terletak di perempatan jalan, menjadikanya ramai dikunjungi banyak orang. Jika kamu dari Pantura, kamu mesti berjalan ke selatan sekira 200 meter dari pasar Suradadi. Bagi kamu yang lagi berwisata di Suradadi atau terdampar di sana, sempatkan mampir di masjid ini ketika waktu berbuka tiba.
  2. Masjid Baitussalam Jatibogor
    Masjid ini juga sudah rutin menyediakan makanan berbuka puasa bersama (ifthor) bagi warga sekitar dan para musafir. Masjid ini terletak tidak berada di jalur utama Pantura, akan tetapi masuk ke jalur desa. Tepatnya di sebelah selatan balai desa Jatibogor. Memang tempatnya jauh dari jalan raya Pantura, tapi cocok dijadikan referensi sebagai tempat singgah ketika berbuka puasa.
  3. Musholla Al Maghfiroh Sidoharjo
    Musholla ini terletak di desa Sidoharjo, tepatnya arah selatan jalur Pantura. Walaupun musholla, tapi tiap harinya mereka menyediakan menu berbuka puasa (ifthor). Kalau kamu tersesat atau lupa arah, dari Pantura kamu bisa masuk melalui gerbang Peleman sekitar 1 km ke arah selatan. Mudah ko dijangkau.

Nomor 4-7 dan foto menyusul

Mohon maaf sekali pada pembaca setia Bloge Wikarso, pembahasan ini baru menjelaskan 3 masjid. Mengingat pembahasan ini penting dan mendesak, sehingga sebisa mungkin dipublish terlebih dahulu. Untuk masjid yang lain dalam tahap observasi oleh koresponden Bloge Wikarso di seluruh Kecamatan Suradadi. Mohon dimaklumi.

Waah... sangat menyenangkan ya, bisa buka puasa bersama bareng setiap hari. Tahu ngga sob, kalau memberi makan orang yang sedang berpuasa itu menghasilkan banyak pahala. Bahkan pahala orang yang berpuasa tersebut akan diberikan kepada kita tanpa dikurangi sedikitpun. Subhanallah... beruntung sekali ya. Lebih lengkapnya kita simak penjelasannya sebagai berikut :

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ (رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صحيح)

“Barangsiapa yang memberi makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR. At Tirmidzi, beliau berkata, “Hadits Hasan Shahih”)

Termasuk nikmat dari Allah subhanahu wata’ala atas hamba-hamba-Nya, Allah mensyariatkan tolong-menolong di atas kebaikan dan ketakwaan. Dan termasuk tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan ini adalah memberi makanan berbuka bagi orang yang sedang berpuasa, karena orang yang berpuasa diperintahkan untuk berbuka dan menyegerakan buka puasanya.

Apabila dia ditolong dalam perkara ini, maka ini termasuk nikmat dari Allah ‘azza wajalla. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِماً كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memberi buka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala yang semisal orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.”

Para ulama berselisih pendapat tentang makna “Barangsiapa yang memberi buka bagi orang yang berpuasa”. Dikatakan bahwa yang diinginkan dengan memberi makanan berbuka di sini adalah memberikan hal minimal yang bisa membatalkan puasa seorang yang berpuasa, walaupun itu hanya sebutir kurma.

Dan sebagian ulama berkata bahwa yang diinginkan di sini adalah memberikan makanan pembuka yang mengenyangkan, karena inilah perkara yang memberikan manfaat bagi orang yang berpuasa sepanjang malam, dan terkadang cukup baginya sampai sahur.

Akan tetapi yang zhahir dari hadits ini adalah manusia apabila memberikan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa walau dengan sebutir kurma, maka dia akan mendapatkan pahala semisal pahala orang yang berpuasa tersebut.

Oleh karena itu, sudah sepantasnya bagi manusia untuk bersemangat memberikan makanan berbuka bagi orang-orang yang berpuasa dengan kadar semampunya, terlebih lagi bersamaan dengan butuh dan fakirnya orang yang berpuasa tersebut, atau butuhnya mereka karena mereka tidak menemukan orang yang menyediakan makanan berbuka bagi mereka, atau keadaan lain yang menyerupai ini.

(Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Diterjemahkan untuk blog ulamasunnah dari Syarah Riyadhus Shalihin, Jilid II halaman 1412, terbitan Darussalam, Mesir)


Demikian. Semoga bermanfaat.

Senin, 14 Juli 2014


Program Pembantu Penulisan Ijazah

Dalam penulisan Ijazah dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian ketika menuliskannya. Banyak yang harus diteliti kembali ketika hal tersebut telah dilakukan. Bahkan untuk mengurangi kesalahan dalam penulisannya dibuat standar ganda sebagai koreksi dari konsep ijazah yang telah ditulis.

Memang itu bukanlah hal mudah. Mengingat, Ijazah adalah dokumen hidup. Dokumen pribadi yang akan berlaku selamanya. Bagi seorang siswa, ini adalah dokumen berharga yang tidak boleh rusak dan hilang. "Inilah hasil belajarku..." demikianlah mereka berujar.

Petugas yang menulis Ijazah hendaknya berhati-hati saat menulis dokumen Ijazah.

Format Ijazah yang sekarang, memiliki format yang mendetail. Terdiri dari beberapa nilai yang perhitungannya membutuhkan ketelitian. Seperti Nilai rata-rata rapor, nilai ujian sekolah, nilai sekolah, dan nilai ujian nasional. Masing-masing nilai tersebut dikelompokkan berdasarkan format yang disesuaikan.

Dalam postingan kali ini Bloge Wikarso ingin berbagi sedikit program pembantu penulisan Ijazah bagi petugas penulis Ijazah supaya lebih mudah dan efisien dalam mengerjakannya. Silahkan bisa dicoba.

Tampilan utama program pembantu penulisan Ijazah

Halaman cetak


Download Program Pembantu Penulisan Ijazah

Demikian. Semoga bermanfaat.

Kamis, 05 Juni 2014


Belajar Bahasa Arab di BadarOnline.Com

Badar Online


Ketika sedang mencari-cari informasi tentang bahasa Arab, tidak sengaja penulis dapatkan website belajar bahasa Arab bagi pemula, yaitu di Badar Online. Isinya lengkap, meliputi pembelajaran bahasa arab Nahwu dasar berdasarkan urutan yang sudah disusun dengan rapi. Yang saya suka dari website ini adalah selain kita bisa melihat materi pembelajaran yang sudah tertera, kita juga bisa mendengarkan audio yang menjadikan kita semakin paham. 

Lebih jelasnya silahkan kunjungi dan dengarkan penjelasannya di.

Demikian. Semoga bermanfaat.

Rabu, 21 Mei 2014


Menembus Batas Kecamatan Suradadi

Terpandang jauh di ujung bumi
Kau yang berada di sana
Melalui batas waktu yang maya
Di tengah pusaran galaksi
Kau yang terorbit
Hari demi hari ku selalu mengenangmu
Kan ku tempuh perjalanan kerinduan
Kan ku lalui batas-batas rinduku
Menempuh perjalanan panjang melalui waktu

Puisi di atas hanya sebuah permisalan “menebus batas”. Akan tetapi yang akan disajikan di sini adalah menebus batas/ perbatasan sebuah daerah/ wilayah. Mari kita awali dengan pengertian batas.


Perbatasan adalah garis khayalan yang memisahkan dua atau lebih wilayah politik atau yurisdiksi seperti negara, negara bagian atau wilayah subnasional. Pada masa dulu banyak perbatasan yang tidak jelas posisinya.Di beberapa wilayah Indonesia. perbatasan ditandai dengan tapal batas. Tapal batas bisa berupa batu atau tugu berukuran besar ataupun kecil. (Sumber : Perbatasan Wilayah)


Sama dengan wilayah Suradadi Kabupaten Tegal, juga memiliki batas-batas wilayah. Salah penanda batas wilayah di Kecamatan Suradadi adalah berupa jembatan dan prasasti.

Berikut gambar foto yang berhasil Bloge Wikarso himpun.

Perbatasan Desa Gembongdadi dengan Karangmalang

Jembatan batas Kecamatan Suradadi dengan Demangharjo, Warurejo

Batas Kecamatan Suradadi dengan Warurejo

Prasasti batas Desa Jatibogor dengan Jatimulya

Batas Desa Karangmulya dengan Harjosari

Batas Desa Karangwuluh dengan Kesamiran, Tarub

Batas Desa Karangmulya dengan Jatibogor

Mengenai batas wilayah, kita jadi teringat hukum merampas tanah dan mengubah batas tanah. Mari kita ingat kembali.

Hadits yang diriwayatkan dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha bahwasanya telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ ظَلَمَ قِيْدَ شِبْرٍ مِنَ الأَرْضِ طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Barang siapa yang berbuat zhalim (dengan mengambil) sejengkal tanah maka dia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.” (Muttafaqun ‘Alaih, Riyadhush Shalihin no. 206).

Hadits yang diriwayatkan dari Sa’id bin Zaid rodhiyallohu ‘anhu bahwasanya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam berasabda:

مَنْ ظَلَمَ مِنَ الأَرْضِ شَيْئًا طُوِّقَهُ مِنْ سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Barang siapa yang mengambil sejengkal tanah secara zhalim maka dia akan dikalungit (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.” Muttafaqun ‘Alaih, Imam Bukhari (5/103/2452), Imam Muslim (3/1230/1610).

Hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar rodhiyallohu ‘anhuma, dia berkata bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَخَذَ مِنَ الأَرْضِ شَيْئًا بِغَيْرِ حَقِّهِ خُسِفَ لَهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَى سَبْعِ أَرَضِيْنَ

“Barang siapa yang mengambil tanah (meskipun) sedikit tanpa haknya maka dia akan ditenggelamkan dengan tanahnya pada hari kiamat sampai ke dasar tujuh lapis bumi.” (HR. Imam Bukhari (5/103/2454), Shahih Jami’ush Shaghir no.6385)

Hadits yang diriwayatkan dari Ya’la bin Murrah rodhiyallohu ‘anhu, dia berkata telah bersabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam:

أَيُّمَا رَجُلٍ ظَلَمَ شِبْرًا مِنَ الأَرْضِ كَلَّهُ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ أَنْ يَحْفِرَهُ حَتَّى يَبْلُغَ آخِرَ سَبْعِ أَرَضِيْنَ, ثُمَّ يُطَوِّقَهُ إَلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَقْضَى بَيْنَ النَّاسِ

“Siapa saja orang yang menzhalimi (dengan) mengambil sejengkal tanah (orang lain), niscaya Alloh akan membebaninya hingga hari kiamat dari tujuh lapis bumi, lalu Alloh akan mengalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sampai seluruh manusia diadili.”( HR. Ibnu Hibban no.1167, Imam Ahmad (4/173), Ash Shahihah no.240)

Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Tsabit rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata; aku mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَخَذَ اَرْضًا بِغَيْرِ حَقِّهَا كُلِّفَ أَنْ يَحْمِلَ تُرَابَهَا إِلَى الْمَحْشَرِ

“Barangsiapa yang mengambil tanah tanpa ada haknya, maka dia akan dibebani dengan membawa tanahnya (yang dia rampas) sampai ke padang mahsyar”( HR. Imam Ahmad (4/173), Ash Shihah no.242)

Berkata Syaikh Salim Al-Hilali menerangkan bentuk adzabnya: “Maksud dari dikalungi dari tujuh lapis bumi adalah Alloh membebaninya dengan apa yang dia ambil (secara zhalim) dari tanah tersebut, pada hari kiamat sampai ke padang mahsyar dan menjadikannya sebagaimana membebani di lehernya atau dia disiksa dengan menenggelamkan ke tujuh lapis bumi, dan mengambil seluruh tanah tersebut dan dikalungkan di lehernya.” (Kitab Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadhish Shalihin, jilid 1 hal. 302)

Semantara Syaikh Abdullah Al-Bassam menjelaskan: “Oleh karena itu Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwasanya barangsiapa yang mengambil tanah orang tanpa izinnya (merampasnya) baik sedikit ataupun banyak maka dia datang pada hari kiamat dengan adzab yang berat, dimana lehernya menjadi keras dan panjang kemudian dikalungkan tanah yang dirampasnya dan apa yang berada di bawahnya sampai tujuh lapis bumi sebagai balasan baginya yang telah merampas tanah.” (Taisirul ‘Alam jilid 2 hal. 231)
Demikian juga Syaikh Utsaimin menjelaskan bagaimana adzab bagi orang yang merampas tanah orang lain dengan mengatakan: “Manusia jika merampas sejengkal tanah maka dia akan dikalungi dengan tujuh lapis bumi pada hari kiamat, maksudnya menjadikan baginya kalung pada lehernya, kita berlindung kepada Alloh, dia membawanya di hadapan seluruh manusia, di hadapan seluruh makhluk, dia dihinakan pada hari kiamat.” (Syarhu Riyadush Shalihin Libnil Utsaimin, jilid 1 hal. 753).

Sumber : Merampas Tanah dan Mengubah Tanda Batas Tanah

Diolah dari foto yang terlupakan, semoga bermanfaat.

Tulisan Populer