Daftar Tulisan
Daftar Tulisan

Jumat, 26 September 2014


Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Artikel ini berasal dari pengalaman mengerjakan projek pro-bono di bulan Ramadhan yang telah berlalu. Saya diminta untuk membuat sebuah kartu undangan yang disertai dengan ayat Al-Qur’an dan hadits. Ternyata ada trik khusus untuk melakukannya.

Preview

Berikut hasil akhir teks arab yang digabungkan dengan teks biasa.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 1

Saya sama sekali tidak bisa menulis bahasa arab di komputer. Jadi, cara termudah adalah dengan menyalin teks arab yang sudah ada. Untuk ayat al-qur’an, saya biasa mengambil dari tanzil.net.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 2

Jika Anda langsung paste teks itu ke Photoshop, teks akan terbalik dan tidak menyambung.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 3

Buka panel Preferences (Ctrl + K). Di pilihan Type aktifkan Middle Eastern untuk mengaktifkan teks dari timur tengah (Arab). Klik OK, lalu restart Photoshop.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 4

Buat file baru lalu paste teks. Teks akan tampil seperti seharusnya. Simpan file ini. Buka panel Preferences (Ctrl + K) lalu kembalikan pilihan Type ke East Asian. Klik OK, lalu restart Photoshop.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 5

Lakukan proses desain seperti biasa. Di kotak teks, sisakan paragraf khusus untuk teks Arab.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 6

Buka file yang tadi kita isi dengan ayat suci al-Qur’an. Akan muncul peringatan bahwa teks ini dibuat dengan format timur tengah. Peringatan ini sebetulnya memberitahu bahwa saat ini Anda tidak akan bisa menulis teks Arab. Tidak jadi masalah karena kita telah selesai menulis teks Arab. Klik saja OK.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 7

Seleksi paragraf yang telah disediakan untuk bahasa lalu timpa dengan ayat al-Qur’an dari file sebelumnya.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop
Ulangi proses ini untuk menambahkan teks lainnya.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Langkah 8

Anda masih bisa mengatur setting teks, misalnya mengubah tipe dan ukuran font.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop
Secara default, Photoshop menggunakan font Adobe Arabic untuk teks arab, Anda bisa menggantinya dengan font lebih baik. Untuk ayat al-Qur’an, font yang lebih sesuai bisa Anda temukan di zekr atau quran.mursil.com.

Langkah 9

Jika menggunakan CS6, saya sarankan Anda untuk menggunakan fitur Styles.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Hasil Akhir

Di bawah adalah tampilan teks arab dalam undangan. Kaligrafi diambil dari vektor gratis di PSDfreemium.
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop
Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Demikian. Semoga bermanfaat.

Sumber : Tips Menggunakan Bahasa Arab di Photoshop

Senin, 22 September 2014


Mengubah Teks yang Diketik dengan Teks atau Objek Lain yang Diinginkan Secara Otomatis

Maksudnya adalah mengganti teks yang kita ketikkan di Microsoft Word, ketika dispasi atau diberi tanda baca dibelakangnya akan berubah menjadi teks lain atau teks dengan format tertentu sesuai dengan keinginan dengan terlebih dahulu menyusun, membuat atau mengaturnya terlebih dahulu. Contoh sederhana adalah ketika mengetik huruf di awal baris atau paragraf, secara otomatis akan menjadi huruf kapital. Begitulah kira-kira ubahan yang akan dilakukan. Kita bisa mengatur teks tertentu menjadi teks tertentu yang lain.

Jika kita mengetik teks “saw" misalkan. Maksud kita, “saw" di sini adalah “Shallallahu 'alaihi wa Sallam”. Maka setelah kita mengaturnya, setiap mengetik teks “saw" kemudian spasi atau diberi tanda baca secara otomatis teks tersebut akan berubah menjadi “Shallallahu 'alaihi wa Sallam”. Dengan hal ini, kita tidak perlu mengetikkan teks “Shallallahu 'alaihi wa Sallam” dengan panjang. Cukup ketik “saw" secara otomatis akan menjadi “Shallallahu 'alaihi wa Sallam”.

Dan hal ini bisa dipraktikkan dengan teks-teks lain. Misalnya “swt" menjadi “Subahanahu wa Ta'ala”, “ra" menjadi “Radhiyallahu 'anhu”, atau nama kamu dengan format tertentu misalkan “bloge wikarso” (dengan kecil semua) menjadi “Bloge Wikarso”.

Selian itu, pengubahan ini bisa juga dilakukan dengan menggunakan simbol atau karakter tertentu. Misalkan (lihat gambar di bawah).


Bisa juga menggunakan format teks biasa seperti berikut. Tergantung mana yang akan kepentingan.

saw= Shallallahu 'alaihi wa Sallam
swt= Subahanahu wa Ta'ala
ra= Radhiyallahu 'anhu
rah= Radhiyallahu 'anha
rahm= Radhiyallahu 'anhum
ra2= Radhiyallahu 'anhuma
as= ‘Alaihis Salam
nama kamu= NAMA KAMU
kota kamu= Kota Kamu

Sebenarnya mudah pengaturan untuk mengubahnya, namanya adalah AutoCorrect. Secara lebih rinci berikut caranya.
  1. Klik File > Options.
  2. Pilih Proofing > AutoCorrect Options.


  3. Pada tab AutoCorrect, ketik teks awal misal saw pada kolom Replace dan teks penggantinya misal Shallallahu 'alaihi wa Sallam di kolom With. Klik tombol Add.





  • Klik OK.



  • Nah, bagaimana caranya jika teks pengubah berupa simbol atau karakter tertentu? Caranya sama seperti di atas. Hanya saja harus diawali dengan copy simbol/ karakter yang dijadikan pengganti. Misalkan teks “saw" menjadi “Shallallahu 'alaihi wa Sallam” (arab). Maka caranya,
    1. Temukan terlebih dahulu teks arabnya (simbolnya). Teks arab ini menggunakan jenis font Aga Arabesque. Bisa download disini.Install font dengan cara copy dan paste kan di folder Font Windows.
    2. Untuk mencari tahu mana teksnya, tulislah sembarang seluruh alfabet a-z terlebih dahulu menggunakan font standar, baru kemudian diganti dengan font tersebut.
    3. Setelah ketemu teks simbolnya, copy teks simbol tersebut. Tapi jangan lupa sesuaikan ukurannya terlebih dahulu. Karena teks simbol, hasilnya akan menyesuaikan besar ketika dicopy. Misalkan dengan ukuran 12 pt.
    4. Lakukan langkah seperti di atas. Pada langkah ke-3 pastekan hasil copy di kolom With.

    Sebelum kita akhiri tulisan ini, simak penjelasan berikut ini tentang larangan memakai nama julukan Abul Qasim selain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan menerangkan nama-nama yang dianjurkan.

    و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِي قَالَ عَمْرٌو عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَمْ يَقُلْ سَمِعْتُ

    Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Abul Qasim, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Berikanlah nama dengan namaku, tetapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim)

    Hadis riwayat Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Seseorang di antara kami mempunyai anak. Ia menamainya dengan nama Muhammad. Orang-orang berkata kepadanya: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Orang itu berangkat membawa anaknya yang ia gendong di atas punggungnya untuk menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Setelah sampai di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ia berkata: Ya Rasulullah! Anakku ini lahir lalu aku memberinya nama Muhammad. Tetapi, orang-orang berkata kepadaku: Kami tidak akan membiarkanmu memberi nama dengan nama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kalian boleh memberikan nama dengan namaku, tetapi jangan memberi julukan dengan julukanku. Karena, akulah Qasim, aku membagi di antara kalian. (Shahih Muslim)


    عَنْ أَنَسٍ قَالَ نَادَى رَجُلٌ رَجُلًا بِالْبَقِيعِ يَا أَبَا الْقَاسِمِ فَالْتَفَتَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أَعْنِكَ إِنَّمَا دَعَوْتُ فُلَانًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكَنَّوْا بِكُنْيَتِي

    Hadis riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Seseorang menyapa temannya di Baqi: Hai Abul Qasim! Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berpaling kepada si penyapa. Orang itu segera berkata: Ya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , aku tidak bermaksud memanggilmu. Yang kupanggil adalah si Fulan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Kalian boleh memberi nama dengan namaku, tapi jangan memberikan julukan dengan julukanku. (Shahih Muslim)

    Demikian. Semoga bermanfaat.

    Kamis, 18 September 2014


    7 Jembatan Terpanjang di Kecamatan Suradadi

    Di penghujung bulan Ramadhan 1435 H (2014 M), dunia Indonesia digegerkan dengan ambruknya jembatan Comal, Pemalang. Padahal saat itu masa mudik (pulang kampung), dimana lalu lintas di jalur Pantura sangat padat. Dengan ambruknya jembatan ini tentu perjalanan mudik terhambat dan macet. Di sisi lain dengan ambruknya jembatan Comal ini, wilayah kecamatan Comal justru menjadi terkenal dan fenomenal.

    Akan tetapi tidak perlu demikian dengan Kecamatan Suradadi Kabupaten Tegal. Untuk menjadi terkenal tidak perlu ambruk dulu jembatannya. Cukup publikasi di beberapa media, niscaya akan terkenal dengan sendirinya. Salah satunya dengan posting kali ini, Bloge Wikarso mencoba mengulas tentang jembatan-jembatan terpanjang di Kecamatan Suradadi. Seperti biasa, kami menghadirkan hanya tujuh saja dari puluhan jembatan di kecamatan Suradadi. Apa sajakah itu? Lihat ulasannya berikut ini.

    Jembatan terpanjang di Kecamatan Suradadi.

    1. Jembatan Maribaya
      Terletak di jalan Pantura menghubungan desa Sidoharjo dengan desa Maribaya, Kramat. Memiliki panjang 60 meter menjadi jembatan terpanjang di Kecamatan Suradadi.

      Jembatan Maribaya

    2. Jembatan Pontong
      Terletak di Desa Sidoharjo menghubungkan dukuh Pontong yang terpisahkan oleh kali Cacaban. Jembatan ini memiliki panjang kurang lebih 50 meter. Jembatan ini mulai dipugar untuk diganti konstruksinya dengan besi kurang lebih tahun 2012. Dengan bahannya yang masih terbuat dari kayu, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang yang melewatinya.

      Jembatan Pontong, Sidoharjo
    3. Jembatan Kali Cenang 2
      Memiliki panjang kurang lebih 30 meter, jembatan ini terletak di desa Harjosari. Memiliki nama Kali Cenang 2 karena menggantikan konstruksi jembatan sebelumnya yang sekarang tidak dipakai.

      Jembatan Kali Cenang 2
    4. Jembatan Harjosari
      Jembatan ini terletak di perbatasan desa Jatimulya dengan desa Harjosari.

      Jembatan Harjosari
    5. Jembatan Jatibogor
      Terletak di desa Jatibogor dengan panjang kurang lebih 30 meteran. Menghubungan desa Jatibogor dengan desa Tanjungharja, Kramat (Kepel).

      Jembatan Jatibogor
    6. Jembatan Pekidjingan
      Jembatan ini menjadi jalur utama di Pantura menghubungkan kecamatan Suradadi dengan desa Demanghajo kecamatan Warureja. Memiliki panjang kurang lebih 25 meter. Diresmikan pada 10 Desember 1970.

      Jembatan Pekidjingan
    7. Jembatan Suradadi
      Jembatan ini juga terdapat di Pantura, menghubungkan desa Suradadi dengan desa Purwahamba. Memiliki panjang kurang lebih 20 meter.

      Jembatan Suradadi

    Demikian pembahasan tentang 7 jembatan terpanjang di kecamatan Suradadi. Adapun ini adalah jembatan di dunia, sedangkan ada jembatan di akhirat. Jembatan Shirath.

    Telah menjadi kesepakatan antara Ahlus sunnah wal jama’ah dan ahli tauhid: yaitu beriman terhadap apa yang menimpa setelah kematian, dan apa yang terjadi pada hari kiamat, dan diantaranya adalah : beriman pada sirath.

    Shirath secara etimologi bermakna jalan lurus yang terang. Adapun menurut istilah, yaitu jembatan terbentang di atas neraka Jahannam yang akan dilewati oleh manusia ketika menuju Surga.

    Di antara ulama berhujjah dengan firman Allah Azza wa Jalla berikut :

    وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيًّا

    Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan (QS. Maryam : 71)

    Diriwayatkan dari kalangan para Sahabat, di antaranya; Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu, Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu dan Ka'ab bin Ahbar bahwa yang dimaksud dengan mendatangi neraka dalam ayat tersebut adalah melewati shirath.

    Sementara itu, banyak sekali riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang ini, di antaranya:

    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

    ثُمَّ يُؤْتَى بِالْجَسْرِ فَيُجْعَلُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْجَسْرُ قَالَ مَدْحَضَةٌ مَزِلَّةٌ عَلَيْهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكَةٌ مُفَلْطَحَةٌ لَهَا شَوْكَةٌ عُقَيْفَاءُ تَكُونُ بِنَجْدٍ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ

    Kemudian didatangkan jembatan lalu dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam. Kami (para Sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana (bentuk) jembatan itu?". Jawab beliau, "Licin (lagi) mengelincirkan. Di atasnya terdapat besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Najd, dikenal dengan pohon Sa'dan ..." (Muttafaqun 'alaih)

    BENTUK DAN KONDISI SHIRAT
    Dalam hadits yang sudah disebutkan di atas terdapat beberapa ciri atau sifat dan bentuk shirath, yaitu: "licin (lagi) mengelincirkan, di atasnya ada besi-besi pengait dan kawat berduri yang ujungnya bengkok, ia bagaikan pohon berduri di Nejd, dikenal dengan pohon Sa'dan ...".

    Dan disebutkan lagi dalam hadits bahwa shirath tersebut memiliki cangkok-cangkok besar, yang mencankok siapa yang melewatinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut ini:

    وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ رواه البخاري

    Dan dibentangkanlah jembatan Jahannam. Akulah orang pertama yang melewatinya. Doa para rasul pada saat itu: "Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah". Pada shirath itu, terdapat pencangkok-pencangkok seperti duri pohon Sa'dan. Pernahkah kalian melihatnya?" Para Sahabat menjawab, "Pernah, wahai Rasulullah. Maka ia seperti duri pohon Sa'dan, tiada yang mengetahui ukuran besarnya kecuali Allah. Maka ia mencangkok manusia sesuai dengan amalan mereka". (HR. al-Bukhari)

    Di samping itu, para Ulama menyebutkan pula bahwa shirath tersebut lebih halus daripada rambut, lebih tajam dari pada pedang, dan lebih panas daripada bara api, licin dan mengelincirkan. Hal ini berdasarkan pada beberapa riwayat, baik yang disandarkan langsung kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ataupun kepada para Sahabat tetapi dihukumi marfu'. Sebab, para Sahabat tidak mungkin mengatakannya dengan dasar ijtihad pribadi mereka tentang suatu perkara yang ghaib, melainkan hal tersebut telah mereka dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Abu Sa'id Radhiyallahu anhu berkata: "Sampai kepadaku kabar bahwa shirath itu lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang".

    Setelah kita amati dalil-dalil tersebut di atas dapat kita ikhtisarkan di sini sifat dan bentuk shirath tersebut sebagaimana berikut:

    1. Shirath tersebut amat licin, sehingga sangat mengkhawatirkan siapa saja yang lewat dimana ia mungkin saja terpeleset dan terperosok jatuh.
    2. Shirath tersebut menggelincirkan. Para Ulama telah menerangkan maksud dari 'menggelincirkan' yaitu ia bergerak ke kanan dan ke kiri, sehingga membuat orang yang melewatinya takut akan tergelincir dan tersungkur jatuh.
    3. Shirath tersebut memiliki besi pengait yang besar, penuh dengan duri, ujungnya bengkok. Ini menunjukkan siapa yang terkena besi pengait ini tidak akan lepas dari cengkeramannya.
    4. Terpeleset atau tidak, tergelincir atau tidak, dan tersambar oleh pengait besi atau tidak, semua itu ditentukan oleh amal ibadah dan keimanan masing-masing orang.
    5. Shirath tersebut terbentang membujur di atas neraka Jahannam. Barang siapa terpeleset dan tergelincir atau terkena sambaran besi pengait, maka ia akan terjatuh ke dalam neraka Jahannam.
    6. Shirath tersebut sangat halus, sehingga sulit untuk meletakkan kaki di atasnya.
    7. Shirath tersebut juga tajam yang dapat membelah telapak kaki orang yang melewatinya. Karena sesuatu yang begitu halus, namun tidak bisa putus, maka akan menjadi tajam.
    8. Sekalipun shirath tersebut halus dan tajam, manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allah Azza wa Jalla Maha Kuasa untuk menjadikan manusia mampu berjalan di atas apapun.
    9. Kesulitan untuk melihat shirath karena kehalusannya, atau terluka karena ketajamannya, semua itu bergantung kepada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.

    BAGAIMANA KEADAAN MANUSIA KETIKA MELEWATI SHIRATH?
    Setelah kita melihat sikilas tentang sifat-sifat shirath yang tedapat dalam hadits-hadits shahih. Berikutnya kita lihat pula bagaimana keadaan manusia ketika melewati shiraath tersebut.

    Riwayat Pertama:

    عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْل الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (( وَتُرْسَلُ الْأَمَانَةُ وَالرَّحِمُ فَتَقُومَانِ جَنَبَتَيْ الصِّرَاطِ يَمِينًا وَشِمَالًا فَيَمُرُّ أَوَّلُكُمْ كَالْبَرْقِ))، قَالَ : قُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَيُّ شَيْءٍ كَمَرِّ الْبَرْقِ ؟ قَالَ: ((أَلَمْ تَرَوْا إِلَى الْبَرْقِ كَيْفَ يَمُرُّ وَيَرْجِعُ فِي طَرْفَةِ عَيْنٍ ؟ ثُمَّ كَمَرِّ الرِّيحِ ثُمَّ كَمَرِّ الطَّيْرِ وَشَدِّ الرِّجَالِ تَجْرِي بِهِمْ أَعْمَالُهُمْ وَنَبِيُّكُمْ قَائِمٌ عَلَى الصِّرَاطِ يَقُولُ رَبِّ سَلِّمْ سَلِّمْ حَتَّى تَعْجِزَ أَعْمَالُ الْعِبَادِ حَتَّى يَجِيءَ الرَّجُلُ فَلَا يَسْتَطِيعُ السَّيْرَ إِلَّا زَحْفًا قَالَ وَفِي حَافَتَيْ الصِّرَاطِ كَلَالِيبُ مُعَلَّقَةٌ مَأْمُورَةٌ بِأَخْذِ مَنْ أُمِرَتْ بِهِ فَمَخْدُوشٌ نَاجٍ وَمَكْدُوسٌ فِي النَّارِ )) رواه مسلم.

    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: "Lalu diutuslah amanah dan rohim (tali persaudaraan) keduanya berdiri di samping kair-kanan shiraath tersebut. Orang yang pertama lewat seperti kilat". Aku bertanya: "Dengan bapak dan ibuku (aku korbankan) demi engkau. Adakah sesuatu seperti kilat?" Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : "Tidakkah kalian pernah melihat kilat bagaimana ia lewat dalam sekejap mata? Kemudian ada yang melewatinya seperti angin, kemudian seperti burung dan seperti kuda yang berlari kencang. Mereka berjalan sesuai dengan amalan mereka. Nabi kalian waktu itu berdiri di atas shirath sambil berkata: "Ya Allah selamatkanlah! selamatkanlah! Sampai para hamba yang lemah amalannya, sehingga datang seseorang lalu ia tidak bisa melewati kecuali dengan merangkak". Beliau menuturkan (lagi): "Di kedua belah pinggir shirath terdapat besi pengait yang bergatungan untuk menyambar siapa saja yang diperintahkan untuk disambar. Maka ada yang terpeleset namun selamat dan ada pula yang terjungkir ke dalam neraka". (HR. Muslim)

    Riwayat Kedua:

    الْمُؤْمِنُ عَلَيْهَا كَالطَّرْفِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ وَنَاجٍ مَخْدُوشٌ وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ حَتَّى يَمُرَّ آخِرُهُمْ يُسْحَبُ سَحْبًا ( متفق عليه)

    Orang Mukmin (berada) di atasnya (shirath), ada yang secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat kuda yang amat kencang berlari, dan ada yang secepat pengendara. Maka ada yang selamat setelah tertatih-tatih dan ada pula yang dilemparkan ke dalam neraka. Mereka yang paling terakhir merangkak secara pelan-pelan”. (Muttafaqun 'alaih)

    Riwayat Ketiga:

    فَمِنْهُمْ مَنْ يُُوْبَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ يُُخَرْدَلُ ثُمَّ يَنْجُو( متفق عليه)

    Di antara mereka ada yang binasa disebabkan amalannya, dan di antara mereka ada yang tergelincir namun kemudian ia selamat (Muttafaqun 'alaih)

    Riwayat Keempat:

    وَيُضْرَبُ الصِّرَأطُ بَيْنَ ظَهْرَي جَهَنَّمَ فَأَكُونُ أنَا وَأُمَّتِيْ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَلاَ يَـَتكَلََّمُ يَوْمَئِذٍ إِلاَّ الرُسُلُ وَدَعْوَى الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ فَمِنْهُمْ الْمُؤُمِنُ بَقِيَ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُجَازَى حَتىَّ يُنَجَّى (رواه مسلم)

    Dan dibentangkanlah shirath di atas permukaan neraka Jahannam. Maka aku dan umatku menjadi orang yang pertama kali melewatinya. Dan tiada yang berbicara pada saat itu kecuali para rasul. Dan doa para rasul pada saat itu: "Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah……di antara mereka ada yang tertinggal dengan sebab amalannya dan di antara mereka ada yang dibalasi sampai ia selamat”. (HR. Muslim)

    Melalui riwayat-riwayat yang kita sebutkan di atas dapat kita simpulkan di sini bagaimana kondisi manusia saat menlintasi shirath :

    1. Ketika manusia melewati shirath, amanah dan ar-rahm (hubungan silaturrahim) menyaksikan mereka. Ini menunjukkan betapa pentingnya menunaikan amanah dan menjalin hubungan silaturrahim. Barangsiapa melalaikan keduanya, maka ia akan merasa gemetar ketika disaksikan oleh amanah dan ar-rahm saat melewati shirath.
    2. Kecepatan manusia saat melewati shirath yang begitu halus dan tajam tersebut sesuai dengan tingkat kecepatan mereka dalam menyambut dan melaksanakan perintah-perintah Allah Azza wa Jalla di dunia ini.
    3. Di antara manusia ada yang melewati shirath secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang secepat angin, ada yang secepat burung terbang, dan ada pula yang secepat kuda yang berlari kencang.
    4. Di antara manusia ada yang melewatinya dengan merangkak secara pelan-pelan, ada yang berjalan dengan menggeser pantatnya sedikit demi sedikit, ada pula yang bergelantungan hampir-hampir jatuh ke dalam neraka dan ada pula yang dilemparkan ke dalamnya.
    5. Besi-besi pengait baik yang bergantungan dengan shirath maupun yang berasal dari dalam neraka akan menyambar sesuai dengan keimanan dan ibadah masing-masing manusia.
    6. Yang pertama sekali melewati shirath adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya.
    7. Setiap rasul menyasikkan umatnya ketika melewati shirath dan mendoakan umat mereka masing-masing agar selamat dari api neraka.
    8. Ketika melewati shirat setiap mukmin agar diberi cahaya sesuai dengan amalnya masing-masing. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu dalam menafsirkan firman Allah Azza wa Jalla :

      يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

      Pada hari itu, engkau melihat orang-orang mukmin cahaya mereka menerangi dari hadapan da kanan mereka (QS. al-Hadid : 12)

    Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Mereka melewati shirath sesuai dengan tingkat amalan mereka. Di antara mereka ada cahayanya sepert gunung, ada cahayanya yang seperti pohon, ada cahayanya setinggi orang berdiri, yang paling sedikit cahayanya sebatas menerangi ampu kakinya, sesekali nyala sesekali padam”

    PELAJARAN DAN HIKMAH DIBALIK KEIMANAN KEPADA KEIMANAN
    Qurthubi rahimahullaht berkata, "Coba renungkan sekarang tentang apa yang akan engkau alami, berupa ketakutan yang ada pada hatimu ketika engkau menyaksikan shirath dan kehalusannya (bentuknya). Engkau memandang dengan matamu kedalaman neraka Jahanam yang terletak di bawahnya. Engkau juga mendengar gemuruh dan gejolaknya. Engkau harus melewati shirath itu sekalipun keadaanmu lemah, hatimu gundah, kakimu bisa tergelincir, punggungmu merasa berat karena memikul dosa, hal itu tidak mampu engkau lakukan seandainya engkau berjalan di atas hamparan bumi, apa lagi untuk di atas shirath yang begitu halus.

    Bagaimana seandainya engkau meletakkan salah satu kakimu di atasnya, lalu engkau merasakan ketajamannya! Sehingga mengharuskan mengangkat tumitmu yang lain! Engkau menyaksikan makhluk-makhluk di hadapanmu tergelincir kemudian berjatuhan! Mereka lalu ditarik oleh para malaikat penjaga neraka dengan besi pengait. Engkau melihat bagaimana mereka dalam keadaan terbalik ke dalam neraka dengan posisi kepala di bawah dan kaki di atas. Wahai betapa mengerikannya pemandangan tersebut. Pendakian yang begitu sulit, tempat lewat yang begitu sempit".

    Imam al-Qurthubi rahimahullah menambahkan, "Bayangkanlah wahai saudaraku!. Seandainya dirimu berada di atas shiraath, dan engaku melihat di bawahmu neraka Jahanam yang hitam-kelam, panas dan menyala-nyala, engkau saat itu sesekali berjalan dan sesekali merangkak".

    Dari pembahasan shirath di atas terbukti kebenaran aqidah Ahlus Sunnah dalam pembahasan masalah iman:

    Bahwa amal sholeh merupakan bagian dari iman, karena jelas sekali disebutkan dalam hadits-hadits shirath tersebut bahwa kecepatan manusia melewatinya sesuai dengan kadar keimanan mereka masing-masing. Ini sekaligus membantah paham Murji`ah yang mengeluarkan amal sholeh sebagai bagian dari iman.
    Bahwa iman bertambah dan berkurang. Ketika seorang Mukmin berbeda-beda tingkat kekuatan iman mereka, maka berbeda-beda pula tingkat kecepatan mereka ketika melewati shirath.

    Dalam pembahasan shirath ini terdapat pula pelajaran bagi kita agar kita berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan, sehingga termasuk orang yang paling cepat ketika melewati shirath di akhirat kelak. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawab.

    [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIV/1432H/2011. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

    Minggu, 14 September 2014


    38 Teknik Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam Mengoreksi Kesalahan Orang

    Memberikan pengajaran kepada orang lain banyak cara dan macamnya. Ia membutuhkan berbagai sarana dan metode yang diantaranya adalah dengan mengkritik dan mengoreksi terhadap hal-hal salah. Mengoreksi adalah bagian dari pengajaran, dimana mengoreksi maupun memberikan pengajaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

    BERBAGAI PERINGATAN DAN PERTIMBANGAN YANG SEBAIKNYA DIJAGA SAAT MENANGANI KESALAHAN
    1. Iklas karena Allah Subahanahu wa Ta'ala.
    2. Memahami bahwa berbuat salah adalah tabiat manusia.
    3. Dalam menuduh orang lain bersalah hendaknya berdasar pada dalil syar’i dengan disertai bukti (fakta di lapangan), bukan lantaran ketidaktahuan atau hal-hal yang berubah-ubah.
    4. Jika kesalahan tersebut lebih besar, maka kepedulian untuk mau mengoreksi kesalahan tersebut harus lebih besar lagi.
    5. Mempertimbangkan posisi orang yang dikoreksi kesalahannya.
    6. Membedah antara orang yang berbuat salah karena bodoh dengan orang yang berbuat salah dan tahu yang dia lakukan adalah salah.
    7. Membedakan antara kesalahan yang terjadi karena ijtihad pelakunya dengan kesalahan yang terjadi karena kesengajaan, kelalaian dan kecerobohan.
    8. Niat (motivasi) baik di pelaku kesalahan tidak bisa menghalangi kritik dan koreksi terhadapnya.
    9. Bersikap adil dan tidak nepotisme dalam memberikan peringatan terhadap kesalahan.
    10. Menghindarkan diri dari melakukan perbaikan terhadap satu kesalahan yang justru bisa membawa kepada kesalahan lain yang lebih besar.
    11. Memahami watak alamiah yang tidak mungkin steril dari kesalahan.
    12. Membedakan antara kesalahan dalam hak syara’ dan kesalahan dalam hak pribadi.

    38 TEKNIK NABI SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM DALAM MENGOREKSI KESALAHAN ORANG

    Pertama : Bersegera melakukan koreksi terhadap kesalahan tersebut dan tidan mengabaikannya.
    Tidak segera untuk mengoreksi kesalahan terkadang akan menyebabkan terlewatnya maslahah (kebaikan) dan tersia-sianya menfaat. Bahkan boleh jadi menghilangkan peluang, menjadikan hilangnya relevansi, sudah menjadi dinginnya kejadian dan berita (tidak aktual lagi), dan sudah melemah pula dampak (akibat) dan kesalahan tersebut.

    Kedua : Menanagni kesalahan dengan menjelaskan hukumnya.
    Dari Jardah Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam melewati dirinya, dimana pada waktu itu dirinya sedang terbuka pahanya. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun bersabda “Tutuplah pahamu, karena paha itu termasuk aurat” (Sunan at Tirmidzi No. 2796).

    Ketiga : Mengembalikan pada pelaku kesalahan kepada syara’ dan memperingatkan mereka tentang asas (dasar) yang telah mereka langgar.
    Diantara para sahabat dari kalangan Muhajirin itu ada seorang lelaki yang suka bercanda. Dalam candanya ia menepuk pantat seorang sahabat Anshar. Tapi ternyata sahabat Anshar itu marah sehingga saling mengklain dan membanggakan diri. Setelah mendapat penjelasan dari para sahabat tentang sebabnya, beliau Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda, “Tinggalkanlah lelucon semacam itu, karena hal itu buruk” (Fath al Bari, 3518)

    Keempat : Mengoreksi paham (konsepsi) yang pada akhirnya bisa menyebabkan terjadinya kesalahan, karena cacat (kacau)nya paham itu.

    Kelima : Mengobati kesalahan dengan memberi nasihat dan menakut-nakuti pelakunya atas siksa.

    Keenam : Memperlihatkan rasa kasih sayang terhadap orang yang berbuat kesalahan.

    Ketujuh : Tidak terburu-buru untuk menyalahkan.

    Kedelapan : Bersikap tenang dalam berinteraksi dengan orang yang berbuat kesalahan.
    Bersikap lemah lembut dan memberikan pengajaran kepada orang yang bodoh (tidak tahu) adalah sesuatu yang wajib, tanpa harus bersikap keras kepadanya, jika orang yang jahil tersebut bukanlah orang yang keras kepala. Apalagi jika ia tipe orang yang butuh teman.

    Kesembilan : Menjelaskan bahaya kesahalan.

    Kesepuluh : Menjelaskan kerugian melakukan kesalahan

    Kesebelas : Memberikan pengajaran kepada orang yang berbuat kesalahan dengan praktik nyata.
    Dengan cara memberikan pengajaran praktik langsung di depan orang yang salah.

    Keduabelas : Menunjukkan pengganti yang benar (terhadap hal-hal yang salah).

    Ketigabelas : Menunjukkan kepada hal-hal yang bisa menghalangi terjadinya kesalahan.

    Keempatbelas : Tidak menghadapkan sebagian para pelaku kesalahan dengan kesalahannya, dan cukuplah dengan menjelaskan secara umum.
    Sebaiknya diingat bahwa teknik sindiran ini tujuannya adalah untuk menyampaikan (memberi tahukan) hukum kepada orang yang berbuat kesalahan, bukan mencela dan menimpakan kesempitan.

    Kelimabelas : Menunjukkan provokasi dan kemarahan yang umum (wajar) terhadap si pelaku kesalahan.

    Keenambelas : Menghindarkan diri dari membantu setan (dalam menimpakan keburukan) atas diri orang yang berbuat salah.
    Diriwayatkan dari Abu Hirairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, “Suatu ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dihadirkan berkenaan dengan seorang lelaki yang meminum minuman keras. Maka beliau pun bersabda, “Pukullah dia!”. Abu Hurairah menuturkan, “Maka diantara kami ada yang memukulnya dengan tangan, ada yang memukulnya dengan sandal, dan ada yang memukulnya dengan baju. Ketika sebagian orang bubar, ada sebagian orang yang berujar dan berdoa, “Semoga Allah menghinakanmu.” Mendengar doa mereka itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun bersabda, “Janganlah kalian berkata seperti itu. Jangan lah kalian menolong setan (untuk menimpakan keburukan) atas dirinya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Fath Bari, 6777).

    Ketujuhbelas : Berusaha mencegah pelaku kesalahan dari melakukan perbuatan yang salah.
    Dari Umar bin Khattab Radhiyallahu 'anhu, ia berkata, “Tidak, demi ayahku...”. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pun bersabda, “Tinggalkanlah olehmu ucapan itu! Orang yang bersumpah atas nama sesuatu selain Allah, maka ia benar-benar berbuat kemusyrikan.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad 1/47).

    Kedelapanbelas : Membimbing si pelaku kesalahan agar mau mengoreksi dan memperbaiki kesalahannya.
    Dengan cara berusaha menarik perhatian si pelaku kesalahan kepada kesalahannya, agar si pelaku kesalahan tersebut melakukan koreksi dan perbaikan dengan dirinya sendiri.

    Kesembilanbelas : Mengingkari objek kesalahan dan menerima yang lain.

    Keduapuluh : Mengembalikan hak kepada pemiliknya dan tetap menjaga posisi (kedudukan) si pelaku kesalahan.

    Keduapuluh satu : Mengarahkan perkataan pada dua sisi perbedaan (perselisihan) dalam kesalahan yang sama-sama dilakukan kedua belah pihak.

    Keduapuluh dua : Meminta si pelaku kesalahan untuk meminta kehalalan (maaf) kepada orang yang ia berbuat salah.

    Keduapuluh tiga : Mengingatkan si pelaku kesalahan akan keutamaan orang yang ia berbuat salah terhadapnya, agar si pelaku kesalahan tersebut menyesal dan meminta maaf.

    Keduapuluh empat : Melakukan intervensi untuk menenangkan kemarahan dan melepas sumbu fitnah diantara dua orang yang melakukan kesalahan.

    Keduapuluh lima : Memperlihatkan sikap marah (tidak suka) terhadap kesalahan.

    Keduapuluh enam : Meninggalkan orang yang salah dan tidak mendebatnya agar dia menyadari kesalahannya.

    Keduapuluh tujuh : Menanyai alasan orang yang bersalah.

    Keduapuluh delapan : Mencela orang yang bersalah.
    Kesalahan yang terang tak boleh didiamkan dan celaan harus cepat-cepat diberikan kepada pelakunya agar ia segera menyadari kesalahannya.

    Keduapuluh sembilan : Berpaling dari orang yang bersalah.

    Ketigapuluh : Mendiamkan orang yang bersalah.
    Ini adalah salah satu metode nabawi yang efektif, terutama jika yang diperbuat adalah dosa atau kesalahan besar, karena tindakan mendiamkan menimbulkan kesan yang mendalam terhadap jiwa orang yang bersalah. Contohnya adalah tindakan mendiamkan Ka’ab bin Malik dan dua sahabatnya yang tak ikut perang Tabuk yang dilakukan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam setelah beliau yakin bahwa mereka memang tak punya alasan dan mereka telah mengakuinya sendiri.

    Ketigapuluh satu : Mengutuk orang yang bersalah yang membantah.
    Muslim Rahimahullah meriwayatkan, “Seorang pria makan di hadapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dengan tangan kiri.” Beliau mengatakan, “Makanlah dengan tangan kananmu!” “Aku tidak bisa,” jawabnya. “Kamu tak bisa?” tanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, “Kesombongan yang mendorongnya tidak mau melakukannya. Dia tak akan bisa mengangkat tangannya ke mulutnya.” (Shahih Muslim, Nomor 2021).

    Ketigapuluh dua : Mengabaikan sebagian kesalahan orang yang bersalah karena merasa cukup dengan menyindirnya saja guna menghargainya.

    Ketigapuluh tiga : Membantu orang yang bersalah memperbaiki kesalahannya.

    Ketigapuluh empat : Menemui orang yang bersalah guna mendiskusikan kesalahannya.

    Ketigapuluh lima : Berterus terang tentang kondisi dan kesalahan orang yang bersalah.

    Ketigapuluh enam : Meyakinkan orang yang bersalah.
    Berdiskusi dengan orang yang bersalah untuk meyakinkannya bisa menyingkap kabut yang menyelimuti mata hatinya, sehingga ia pun kembali ke kebenaran dan jalan yang lurus.

    Ketigapuluh tujuh : Memberitahukan orang yang bersalah bahwa alasan palsunya tidak bisa diterima.

    Ketigapuluh delapan : Mempertimbangkan pembawaan dan tabiat manusia.

    PENUTUP
    1. Meluruskan kekeliruan dalam sesuatu yang wajib dan termasuk bagian dari memberi nasihat dan melarang dari yang mungkar, tapi kewajiban bukan meluruskan kekeliruan semata, karena agama tak hanya melarang yang mungkar saja, tapu juga memerintahkan yang ma’ruf.
    2. Pendidikan tak berarti meluruskan kekeliruan saja, tapi juga mengajarkan ilmu dan menjelaskan prinsip agama dan hukum syariat, dengan menggunakan beragam sarana guna menguatkan pemahaman jiwa anak didik, seperti dengan memberikan keteladanan, menyampaikan nasihat dan bercerita. Berdasarkan simpulan ini, terlihat jelas kekeliruan sebagian orang tua dan pendidik yang memfokuskan sebagian usahanya untuk meluruskan kekeliruan tanpa mengimbanginya dengan upaya menyampaikan prinsip dan aturan serta usaha mencegah atau meminimalisasi penyelewengan.
    3. Berdasarkan peristiwa-peristiwa yang telah dipaparkan, kita melihat keragaman metode nabawi dalam menyikapi kekeliruan, dan penyebabnya adalah perbedaan kondisi dan pelaku. Orang yang bisa memahami dan bermaksud meneladani Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam hendaknya mengkiaskan sesuatu dengan padanannya guna menemukan metode yang telah untuk situasi tertentu.

    Demikian. Semoga Allah Subahanahu wa Ta'ala menganugerahkan kita petunjuk, melindungi dari bahaya hawa nafsu kita, menjadikan kita pembuka kebaikan dan penutup keburukan, serta mengangkat kita menjadi orang yang mendapat petunjuk dan memberikannya.

    Sumber : 38 Teknik Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam dalam Mengoreksi Kesalahan Orang karya Syaikh Muhammad Shalih al Munajjid. Diterbitkan oleh 'Alaihis Salam Salam Publishing, Solo. Januari 2013.

    Tulisan Populer